Istriku dari Dunia Maya (5)

Cinta-Dunia-Maya

Tidak terasa sudah sebulan lebih putus dari pacar (mantan) saya. Dan ternyata dugaan saya benar, malam Minggu saat saya datang ke kosnya dan dia tidak ada, dia bukan hanya minta tolong ke abang kelas saya, tapi mungkin ada yang lain selain itu. Terbukti, setelah kami putus, baru sebulan lebih kabar yang saya dengar dan telah beredar seperti jamur di kampus bahwa mereka telah jadian. Saya tidak terlalu ambil pusing, karena dalam hati saya “Apakah memang wanita sering berbohong kepada pasangannya sendiri saat mereka melakukan salah untuk membela diri?”.

Mungkin tidak semua wanita seperti itu, mungkin hanya saya yang merasakan seperti itu, mungkin kisah cinta saya harus seperti ini, mungkin saya memang tidak pantas untuk dia, mungkin Tuhan menyelamatkan saya dari wanita seperti dia. Dan semoga wanita-wanita yang membaca tulisan ini semuanya setia pada pasangan masing-masing, jangan sesekali menduakan pasangan kita, karena saat saya menulis tulisan ini, terkadang saya merenungi kenapa kisah cinta saya begitu suram dan rumit? Walaupun berakhir bahagia, karena sekarang saya sudah mendapatkan pasangan hidup saya, yang akan saya ceritakan pada tulisan-tulisan betikutnya.

Dan saya merasa bahwa kesuraman kisah cinta saya mungkin dikarenakan terlalu banyak wanita di masa lalu yang saya berikan harapan, yang saya permainkan, yang saya sakiti, yang saya khianati, yang saya bohongi, yang saya kecewakan, dan semua itu akan saya ceritakan dalam setiap kisah tulisan ini. Jadi saya pesankan kepada pembaca, jadilah orang yang setia, karena mendapatkan pasangan yang sesuai dengan kita itu susah, pacaran bertahun-tahun belum tentu berakhir bahagia, tidak pacaran belum tentu tidak bahagia, melalui ta’aruf juga banyak yang bahagia, oleh karena itu jadilah pribadi yang baik, bermanfaat dan disukai banyak orang.

Walaupun kami sudah putus dan dia pacaran (kabarnya) dengan abang kelas itu, tapi sebelumnya kami juga sudah saling memaafkan, karena pasti ada kesalahan selama kami menjalin hubungan. Dan di kampus juga dia sering meminjam buku kuliah. Yang jelas, putusnya kami tidak ada rasa benci yang tertinggal, walaupun pada awalnya saya sempat emosi dan marah-marah, wajar ya, siapapun pasti akan merasakan hal yang sama dengan yang saya rasakan jika mengalami hal seperti yang saya rasakan. Tapi, terlepas dari semua kesalahan yang ada, saling memaafkan adalah yang utama.

***

“Pemeriksaan laporan bisa mulai besok”, ucapku pada semua praktikan yang baru saja selesai melakukan praktek salah satu modul di Lab tempat saya jadi asisten. Kali ini yang praktek adalah kelompok si cewek yang laporannya kemarin bermasalah dengan saya, dan itu sudah beres.

Saya dan si cewek praktikan ini juga sudah sering SMS-an, bukan masalah laporan lagi sih, terkadang dia juga SMS saya dengan dalih meminjam buku, menanyai gimana supaya bisa jadi asisten, menanyai kabar, pokoknya sudah umum deh.

“Paling lambat kapan bang?”, tanya seorang praktikan.

“Kamis”, jawabku singkat. Praktek modul saya untuk kelompok ini hari Sabtu, dan untuk kelompok yang lain dari Jurusan yang sama hari Jum’at. Jadi laporan untuk kelompok ini harus selesai Kamis, karena untuk kelompok yang satunya lagi saya beri waktu sampai Rabu.

Setelah selesai merapikan semua di Lab, sayapun pulang jalan kaki dengan teman-teman sesama asisten. Biasanya, Fakultak Teknik, Pertanian, MIPA, dan beberapa Fakultas lain kalau hari Jum’at dan Sabtu itu banyak praktek di Laboratorium masing-masing Fakultas, atau bahkan numpang di Fakultas lain, seperti praktikan saya yang barusan selesai.

“Eh, kuliah disini juga?”, tanyaku pada seorang wanita yang sedang menunggu angkot (angkutan kota) di pinggir jalan. Dari penampilannya, dia sepertinya baru keluar dari Lab, karena masih mengenakan baju Lab yang khas, seperti baju putih dokter di Rumah Sakit.

“Heeiii… Iya, kamu juga disini?”, balasnya.

Wanita ini adalah teman saya waktu masih SMP, kebetulan dulu saya waktu SMP diasramakan, jadi banyak kisah yang terjadi selama 3 tahun di asrama. Saya hanya 3 tahun, sampai SMP saja, SMA nya saya pindah dari sekolah itu. Padahal di sekolah saya waktu SMP ada SMA nya juga, tapi orangtua saya ingin saya di SMA yang lebih bagus, dan Alhamdulillah, saya masuk ke salah satu SMA swasta yang tergolong bagus di daerah saya waktu itu.

“Kuliah dimana? Baru ngeLab ya?”, tanyaku pada wanita ini disela-sela nostalgia yang terjadi, karena memang sejak tamat SMP kami sudah tidak pernah bertemu, dan bertemu saat sudah kuliah.

“Iya nih, baru pulang Lab. Kuliah di MIPA. Kamu baru ngeLab juga ya? Kuliah dimana?”, pertanyaan bertubi-tubi muncul dari wanita yang tak lain adalah teman akrab cinta monyet saya waktu diasrama dulu.

“Iya, ngawasin praktikan. Aku asisten di Lab jurusanku. Aku di Teknik.”, jawabku menjawab pertanyaan berganda dari dia.

“Eh, teringatnya dia sekarang dimana?”, tanyaku.

“Si itu ya?”, jawabnya seolah-olah paham siapa yang saya maksud dalam pertanyaan saya. Karena memang yang saya tanyakan adalah cinta monyet saya yang tak lain adalah teman dekatnya.

“Tamat SMA gak ada kabar lagi, jadi ya gak tau lagi”, lanjutnya.

Dulu sewaktu di asrama, ada yang namanya piket untuk mengambil nasi ke dapur. Nasi ini untuk satu kamar, satu kamar ada 12 sampai 20 orang, jadi tugas kita menyiapkan piring, nasi, dan menyajikannya untuk teman-teman lain, dan kemudian makan bersama. Piket ini berganti setiap hari, kecuali kakak kelasnya tidak diikutkan. Setiap kamar ada 1 atau 2 kakak kelas untuk mengawasi, walaupun tidak sepenuhnya mengawasi, setidaknya di kamar itu tidak terjadi keributan atau pertengkaran.

Saya sering menanyakan jadwal piket ambil nasi cinta monyet saya kepada teman yang sedang ngobrol ini, dan begitu dia piket ambil nasi, biasanya saya juga pura-pura ke dapur untuk ambil air minum atau apa aja lah, walaupun saya sedang tidak piket. Padahal tujuan sebenarnya supaya bertemu dengan dia. Yah namanya juga cinta monyet, begitu melihat dia, saya bukan malah mendekati, malah cuma memandang dari jarak jauh, dan itu sudah membuat hati saya senang dan berbunga-bunga, walaupun dia tidak melihat saya, sama sekali.

“Duluan ya”, ucapnya sambil menaiki angkot yang memang sudah dia tungguin dari tadi.

“Hati-hati, lain kali kita sambung ya”, balasku sambil berjalan melanjutkan perjalananku menuju kos.

“Siapa tuh bro, boleh juga tuh dikenalin…”, rayu salah satu teman asistenku sambil berjalan menuju kos masing-masing, kebetulan kosan saya dengan asisten ini searah dan tidak terlalu jauh.

“Hahahaha… teman SMP tuh, datangi sendirlah ke MIPA”, balasku sambil tertawa.

***

“Maaf ya, aku gak jadi ke Medan, orangtuaku mau main kesini, lain kali aja ya”, tulisan dalam pesan Offline YM ku saat aku Sign In.

“Ya, gpp, masih banyak waktu”, balasku sambil me-minimize chattingan dengan dia dan membuka chattingan dengan pacar (dunia maya) saya.

“BUZZ!!”, tiba-tiba ada BUZZ dari pacar (dunia maya) saya begitu tahu saya sedang online. Di YM itu ada BUZZ, kalau di BlackBerry sekarang ada PING, dan juga ada notifikasi di kanan bawah monitor kita yang menandakan seseorang online atau off-line di YM.

“Kemana aja say….???”, terlihat tulisan marah dari pacar (dunia maya) saya, karena memang malam ini saya online-nya cukup lama karena baru pulang ngajar Private Les.

Saya sudah mempunyai seorang murid Private Les untuk pelajaran Matematika, Fisika dan Kimia. Murid saya kelas 2 SMA dan jurusan IPA. Jadi 3 kali seminggu, saya selalu mendatangi rumahnya yang lumayan jauh dari kosan saya, harus naik angkot sekitar 20-an menit, karena memang saya mengajarinya belajar di rumahnya.

“Maaf, tadi ngajar. Makanya baru online”, balasku sambil menghidupkan Webcam dan memberikan ke dia. Dia juga memberikan Webcamnya kepada saya, sehingga kami bisa saling melihat wajah.

Seperti biasa, sambil chattingan dengan pacar (dunia maya) saya, saya juga sambil memeriksa e-mail, merancang layout Friendster dan juga sudah mulai aktif bermain game di mIRC. Kala itu di mIRC ada namanya game scramble dan Family 100 yang saya suka memainkannya, karena terkadang pemenang game ini mendapatkan hadiah dari pemilik channel. Channel itu sebutan di mIRC untuk room tempat kita mencari teman chatting, karena tengah malam sedikit orang yang chatting, makanya pemilik channel ini membuat hiburan supaya channel-nya tetap ramai walaupun sudah tengah malam. Dan biasanya yang nongkrong itu para operator warnet yang sedang jaga malam, atau orang yang suka bermain game.

Supaya nick kita tidak diambil orang, dan poin bisa diakumulasi untuk menentukan pemenangnya, maka nick kita harus di registrasi. Saat itu saya diajarin seseorang pemilik atau mungkin hanya Operator channel. Di mIRC juga ada operator channel yang bertugas menjaga channel jika ada yang ngomong jorok, membuat rusuh, dan mereka langsung mengeluarkannya dari channel. Ada namanya AOP, SOP dan Founder. Founder inilah penemu dan pemilik channel sekaligus tingkat tertinggi di sebuah channel, tingkatan di bawahnya ada SOP dan diikuti dengan AOP. Saya lupa kepanjangan dari SOP dan AOP, kalau tidak salah AOP itu Auto Operator, dan SOP itu Super Operator.

Yang jelas, banyak ilmu yang saya dapatkan di mIRC dan semuanya diajarkan oleh teman-teman saya di dunia maya. Dan itu tidak saya dapatkan di dunia nyata, karena terkadang teman di dunia nyata itu susah memberikan jawaban jika kita mengajukan sebuah pertanyaan, apalagi itu menyangkut ilmu.

Malam itu banyak yang online dan bermain game, mungkin karena malam Minggu besoknya semuanya pada libur, jadi saingan mencari poin malam itu bertambah. Lagi asyik main game, tiba-tiba datang BUZZ lagi dari pacar (dunia maya) saya.

“Lagi asyik ya chatting sama pacarnya yang lain??”, tanya pacar (dunia maya) saya dengan nada cemburu (mungkin).

“Gak kok yank, hanya main game aja”, balasku sambil menghentikan sejenak game di mIRC dan meredakan hatinya supaya tidak semakin marah.

Setelah saya yakin cemburunya sudah reda, saya pun melanjutkan bermain game dan pacar (dunia maya) saya pun membolehkan setelah saya berhasil meyakinkan dia beberapa menit melalui chatting.

Sedang asyik bermain game, mendadak Handphone saya berbunyi dan itu adalah bunyi yang menandakan ada SMS masuk. Seketika saya mengabaikannya dan tetap fokus pada game karena saat itu saya sudah peringkat 2, dan peringkat 3 nilainya tidak jauh beda dengan saya dan sedang main juga. Setelah saya rasa nilainya lumayan jauh dan sudah mendekati peringkat 1, sayapun membaca SMS yang tadi masuk.

“Bang, besok sore kemana? Ada acara gak? Nonton bioskop yuk?”, tulisan dalam SMS yang masuk tengah malam dan tak lain adalah dari praktikan saya yang kemarin laporannya bermasalah.

Sontak saya kaget, ada apa lagi ini?

Bersambung…

***Untuk mendapatkan update terbaru via Facebook anda silahkan klik disini!

Cerita ini berdasarkan kisah nyata, penulis saat ini sudah menikah dengan wanita yang dikenalinya melalui Internet, dan cerita ini akan terus berlanjut sampai ke pernikahan si penulis dengan istrinya sekarang, jadi tungguin terus kelanjutan ceritanya ya, karena banyak pesan moral dan pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah ini. Silahkan Sebarkan ke semua temanmu jika kamu suka cerita iniā€¦.

 

*Penulis: Harmein Pane
Penulis merupakan pengelola website Komik Online terjemahan bahasa Indonesia, www.pecintakomik.com
E-mail: mangabaru@gmail.com
Facebook: Harmein Pane

Website: www.harme.in
Twitter: @HarmeinPane