Istriku dari Dunia Maya (4)

Cinta-Dunia-Maya

“Mata Guru, Roha Sisean”, salah satu petuah Batak yang merupakan warisan leluhur dan ini menjadi nasehat andalan dari orangtua saya. Orangtua saya sering mengingatkan saya untuk kalimat yang satu ini. Itu adalah petuah Batak yang bila kita artikan, kira-kira seperti ini “Jadikan Mata sebagai guru dan Nurani sebagai tuntunan”.  Ini mengajarkan, agar kita bisa bersikap dan bertindak berdasarkan apa yang kita lihat di sekitar, kemudian jika sesuai dengan hati nurani kita, maka kita perbuatlah dia. Singkatnya, memanfaatkan pengalaman dari apa yang kita lihat, dan menjadikan hati kita menjadi guru yang terbaik.

Suku Batak itu terkenal pekerja keras, ulet, dan termasuk orang yang sigap mengambil peluang. Baik itu peluang usaha, maupun peluang bercinta seperti yang saya (ngakak). Dan orang Batak termasuk orang yang mudah bergaul, pandai bergaul. Seperti lirik lagu Anak Medan, “Modal pergaulan boido mangolu au (dengan modal pergaulan pun aku bisa hidup)”. Tapi tidak semua juga sih orang Batak itu pekerja keras, ulet, pandai bergaul, tergantung pribadi masing-masing juga.

Tapi kita bukan untuk membahas tentang orang Batak, melainkan petuah yang saya dapat dari orangtua “Mata Guru, Roha Sisean” ini. Mungkin inilah yang saya amalkan, makanya perkembangan saya menerima dan mempelajari apa-apa yang ada di Internet termasuk cepat. Karena saya sudah banyak kenalan di dunia maya, bukan hanya di chattingan saja, tapi juga komunitas mIRC (Waktu itu ada namanya server DalNet) di Medan.

***

“Berangkat ya bang”, terdengar suara adek cewek pemilik warnet tempat saya biasa main internet. Belakangan saya sering Online sampai pagi, paket begadang yang waktu itu hanya 15an ribu dari jam 24.00 WIB sampai jam 08.00 WIB pagi, tapi karena saya sudah termasuk langganan tetap, datang jam 22.00 WIB pun saya sudah dibolehkan paket begadang dengan bayaran yang sama. Hanya saja ada biaya tambahan untuk Webcam, karena saya hampir setiap Online di YM menggunakan Webcam untuk pacaran dengan pacar dunia maya saya.

“Yo, hati-hati”, jawabku sambil terus memfokuskan mata ke layar komputer, kebetulan saya sedang menyelesaikan layout Friendster yang dipesan teman dunia maya.

Cewek ini, yang tidak lain adalah adek sepupu dari abang pemilik warnet saat itu masih sekolah, kelas 2 SMA di salah satu SMA Swasta di Medan. Hampir setiap pagi sebelum berangkat sekolah dia selalu pamit, karena mereka tinggal di lantai 2, sedangkan Internetnya ada di lantai 1.

“Tididittt.. Tididitttt…”, terdengar suara billing yang menandakan paket begadang saya sudah habis.

“Tambah bang, bebas”, tuturku pada operator.

“Gak kuliah boss?”, sambutnya.

“Masuk jam 10 nanti”, jawabku. Karena memang hari itu saya ada kuliah jam 10.00 WIB.  Layout pesanan teman masih nanggung, jadi saya harus menyelesaikannya, karena saya janji pagi akan selesai. Maklumlah, yang mesan cewek, walaupun saya tidak kenal secara langsung, hanya kenal di dunia maya saja, saya usahakan untuk menepati janji.

“Udah bang, berapa?”, tanyaku pada Operator.

“1500 boss”, jawabnya. Karena memang hanya beberapa menit waktu tambahan dari paket begadang saya, layout pesanan sudah selesai dan sudah saya buat di Friendster yang memesan tadi.

Setelah membayar billing, sayapun langsung pulang ke kos dan tidur sebentar karena jam 10.00 WIB nanti ada kuliah, dan dosennya lumayan killer, jadi harus extra hati-hati.

“Woi! kenapa ko gak masuk?”, terdengar suara teriakan teman-temanku yang datang menerobos ke kamar kosku, karena memang saya jarang mengunci kamar kosan.

“Jam berapa?”, tanyaku sambil cemas seperti orang tergesa-gesa dan rogoh sana sini mencari Handphone untuk melihat jam.

“Udah jam 2 woi!”, bentak salah seorang teman kampusku yang memang terkenal mulutnya itu macam ember bocor, hahahaha, tapi dia orangnya baik, suaranya saja yang besar.

“Hahhhhh?!!!!”, mungkin kalau di foto saat itu saya seperti orang yang kesambar petir yang rambutnya jingkrak dan wajahnya hitam gosong.

“Hahahaha… Mamposlah ko kan gak masuk jam Bapak itu…”, terdengar suara menakut-nakuti dari teman yang satu lagi.

“Udah ah, jangan gitu klen. Udah aman kok, kami tadi bilang kamu sakit ke Bapak itu”, temanku yang terkenal baik dan jujur ini membela dan meredakan serta membuat saya jadi tenang sejenak.

Saya pun merasa lega setelah tahu teman-teman terbaikku ini ternyata menyelamatkan saya dari amukan dosen killer yang saya tidak masuk pada jam kuliahnya.

“Kek mana laporan praktikan ko yang kemarin itu? Tadi dia nanyain aku dimana kosmu”, suara teman sesama asisten di Laboratium memecah keheningan.

Saya tidak langsung menjawabnya, karena saya memang sedang melihat Handphone saya memeriksa pesan masuk yang cukup banyak selama saya tertidur. Dan memang ada pesan dari praktikan Jurusan sebelah yang laporannya masih salah “Kos abang dimana? Aku mau kesana memeriksakan laporan”, kira-kira seperti itulah isi SMS nya.

Sebelumnya, si cewek ini juga meng-SMS saya “Bang tolonglah… Apapun akan aku lakukan bang, tolong…”. Ini SMS dia ketika saya mengaktifkan Handphone yang semalaman gak aktif, karena menghindari telpon dari pacar (mantan) saya yang bolak-balik nelpon dan SMS setelah saya kirim SMS mutusin dia. Tapi saya tidak membalas SMS praktikan ini.

Memang, di Teknik itu kita bagaikan pengemis untuk memeriksakan laporan praktikum kepada asisten. Mungkin ini memang merupakan hukuman bagi kita atas kesalahan yang kita buat, supaya kita bisa menjadi pribadi yang bermutu sesuai tujuan dari Laboratorium jika kita sudah selesai menjalani semua modul praktek di Laboratorium terkait.

“Belum, besoklah”, jawabku sambil meletakkan Handphone dan suara dengan nada agak malas pun terlontar dari mulut saya menjawab pertanyaan teman tadi.

Setelah teman-teman pamit untuk pulang, saya juga mandi dan bersiap-siap pergi ke Warnet lagi. Karena memang saat itu kehidupan saya hanya seputar kampus, warnet, tempat makan saja. Saya mulai tertarik menggeluti dunia maya, yang waktu itu saya rasa lebih nyata daripada dunia nyata itu sendiri.

***

“Bang, ada paket nih, dari Hongkong”, sambut operator warnet yang tugas sore saat melihat saya masuk ke warnet sambil memberikan sebuah kotak kecil.

Ternyata itu adalah paket yang dikirimkan pacar dunia maya saya dari Hongkong, waktu itu dia sedang serius menggeluti MLM yang cukup tenar (saat itu). Kotak itu berisikan beberapa berkas yang menandakan bahwa saya sudah resmi menjadi anggota MLM yang digelutinya kalau tidak salah waktu itu bintang dua. Belakangan saya tahu kalau MLM ini ada bintang-bintangnya, dan pacar dunia maya saya sudah bintang enam saat itu. Saya bahkan tidak mengerti cara kerjanya bagaimana, cara mendapatkan bintangnya bagaimana, cara mengembangkannya bagaimana, yang jelas saya hanya meng-iyakan ajak dari pacar (dunia maya) saja.

“Paketnya udah sampe yank, makasih ya”, kalimat yang aku tulis di chattingan YM setelah saya Sign In.

“Iya say, sama-sama. Dijalankan ya bisnisnya”, tulisan yang saya baca dan merupakan balasan chattingan dari pacar (dunia maya) saya.

“Amanlah itu yank…”, jawabku sambil garuk-garuk kepala, karena memang saya tidak mengerti bisnis MLM yang dia geluti ini bagaimana, yang penting buat dia senyaman-nyamannya.

“Masih main aja bang?”, tanya cewek yang tak lain adalah adek dari pemilik warnet sambil menenteng (menjinjing) sepatunya dan berjalan menuju lantai tangga lantai 2. Dia memang sering pulang sore, karena di sekolahnya banyak les tambahan.

Saya pun tidak menghiraukannya dan tetap fokus ke layar monitor karena sedang chattingan dengan pacar (dunia maya) saya sambil mengotak-atik layout Friendster untuk mencari tampilan baru yang lebih menarik, mempelajari mIRC karena ternyata banyak ilmu bermanfaat bahkan katanya bisa menghasilkan uang, dan juga sesekali memeriksa e-mail yang saya buat menjadi kontak di blog Private Les.

Tidak ada e-mail masuk, pacar (dunia maya) saya juga sudah Sign Out, layout baru untuk Friendster juga mengalami kebuntuan, sayapun menyandarkan badan yang lumayan pegal ke sandaran kursi sambil menghidupkan sebatang rokok. Rencananya saya akan lanjut untuk mempelajari ilmu di mIRC setelah selesai nyantai, karena memang saya sangat penasaran, apakah memang bisa menghasilkan uang dari Internet?

Ketika sedang enaknya bersantai sambil memanjakan badan yang sudah mulai pegal-pegal, mendadak di layar monitor saya muncul chattingan dari teman chatting saya yang lain yang juga TKW di Hongkong “Kamu di Medan dimana? Rencananya sebentar lagi aku ke Medan.”

Saya pun kaget setengah mati dan berpikir, apakah memang dunia maya itu SENYATA ini?!!

Bersambung…

***Untuk mendapatkan update terbaru via Facebook anda silahkan klik disini!

Cerita ini berdasarkan kisah nyata, penulis saat ini sudah menikah dengan wanita yang dikenalinya melalui Internet, dan cerita ini akan terus berlanjut sampai ke pernikahan si penulis dengan istrinya sekarang, jadi tungguin terus kelanjutan ceritanya ya, karena banyak pesan moral dan pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah ini. Silahkan Sebarkan ke semua temanmu jika kamu suka cerita ini….

 

*Penulis: Harmein Pane
Penulis merupakan pengelola website Komik Online terjemahan bahasa Indonesia, www.pecintakomik.com
E-mail: mangabaru@gmail.com
Facebook: Harmein Pane

Website: www.harme.in
Twitter: @HarmeinPane