Istriku dari Dunia Maya (7)

Cinta-Dunia-Maya

Ditinggal tanpa kabar itu memang menyakitkan, bahkan jauh lebih sakit daripada saat memutuskan pacar (mantan) saya sebelumnya. Sudah beberapa bulan berlalu, tetap saja tidak ada kabar. Bolak balik ke kampusnya menanyakan kabar, teman kampusnya juga mengatakan kalau dia sudah tidak pernah masuk lagi.

Tapi, apapun masalah yang kita hadapi, kita jangan terlalu lama larut dalam masalah itu. Jika kita terlalu lama terlarut dalam sebuah masalah, kita tidak akan bisa move on untuk kehidupan yang lebih sukses yang kemungkinan besar sedang menunggu di depan kita.

Walau sakit, perlahan saya mencoba untuk berpaling dari masalah hati yang sudah berkali-kali saya alami. Internet memang pelarian yang paling cocok untuk saya saat itu. Entah kenapa, jika sedang di depan layar komputer, rasanya beban di dunia ini tidak ada. Apalagi saat itu saya sudah mulai dikenal di dunia maya karena saya sudah bisa membuat game di channel mIRC seperti yang yang biasa saya mainkan.

Sedikit kemajuan, yang biasanya saya sebagai sebagai pemain, sekarang saya sudah bisa menjadi pemilik. Begitulah kira-kira kalimat yang cocok untuk kondisi saya saat itu.

Kisah cintaku saat itu serba gagal, gagal di dunia maya, juga gagal di dunia nyata. Karena kegagalan cinta ini, saya tidak mau berimpas pada kegagalan di bidang lainnya. Mencoba dengan sekuat tenaga untuk bangkit dari kegagalan cinta memang sulit, apalagi di usia yang masih terbilang labil, istilahnya Ababil (ABG Labil), walaupun saat itu usia saya sudah 20an, tapi tetap saja usia yang rawan apalagi berkaitan dengan masalah hati.

“Gimana game pesanan si anu? Sudah selesai?”, tanya teman mIRC saya yang di Jakarta.

“Dikit lagi bang, aku usahakan besok pagi sudah jalan tuh di channelnya”, jawabku sambil melanjutkan mengerjakan game pesanan.

“Oke, gw mau tambahin Guard di channel kita dulu”, balasnya.

Saat itu bot mIRC yang kami buat adalah bot EggDrop, dan saat itu EggDrop menjadi IRC Bot paling populer. Dan untuk membuat bot EggDrop ini kita butuh namanya TCL (Tool Command Language), pengertian jelasnya silahkan cari sendiri, karena disini kita tidak membahas itu, hehehe. Jadi teman saya yang tadi sedang menyelesaikan TCL Guard untuk perlindungan channel, sedangkan saya sedang menyelesaikan TCL Game pesanan orang.

Seperti biasa, sambil mengerjakan game pesanan ini, saya juga sambil chattingan di YM dan mIRC, tapi sudah tidak bermain game mIRC lagi. Ketika sedang asyik ngerjain Game pesanan, tiba-tiba ada cewek yang menambahkan saya menjadi temannya di YM.

“Salam kenal dari Medan kk”, tulisnya setelah saya terima pertemanannya.

“Salam kenal kembali”, jawabku singkat sambil menutup jendela chattingan dan lanjut menyelesaikan game.

“Kk yang buat game itu kan? Boleh ga buatin di channel komunitas Medan?”, tanya si wanita yang baru saja menambahkan saya jadi teman di YM.

“Nanti ya, lagi ada pesanan”, jawabku.

“Okelah kk, kami tunggu”, balasnya.

***

Tadi pagi Game pesanan sudah selesai dan sudah bisa dimainkan di channel yang memesan. Sepulang kuliah, rencananya saya akan ke rumah murid private saya yang baru. Dua hari lalu orang tuanya menelpon saya dan meminta agar menjadi guru private untuk putrinya yang saat itu masih kelas 1 SMA. Tanpa pikir panjang saya pun mengiyakan dan berjanji akan datang ke rumahnya untuk membicarakan biaya dan metode pembelajaran yang akan diadakan.

Jam istirahat kampus, seperti biasa bersama teman-teman menuju kantin untuk makan siang. Ada pemandangan yang tidak biasa saat itu, entah kenapa mata saya tertuju pada mantan pacar saya sedang bertengkar dengan pacarnya yang tak lain adalah abang kelas saya.

Dapat kabar dari teman, ternyata beberapa hari belakangan ini mereka memang sering tidak akur, bahkan sampai bertengkar di depan umum seperti yang terjadi saat ini. Padahal, sewaktu bersama saya, pertengkaran hanya sebatas SMS saja, tidak pernah ditunjukkan ke umum bahwa kita sedang bertengkar. Tapi saya tidak begitu memperhatikannya dan langsung memesan menu makan siang di kantin.

Beberapa saat kemudian, cewek yang tak lain adalah mantan pacar saya pergi meninggalkan pacarnya saat itu dengan wajah sedih sambil menundukkan wajahnya dan berlari kecil. Tapi saya tidak melihat cowoknya berusaha untuk mengejarnya, malah membiarkannya dan melanjutkan makan siangnya.

Penasaran sih, tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi bertanya pada si cewek maupun pacarnya saat itu. Walaupun hubungan kami sudah biasa saja di kampus, tapi saya takut ada gosip tidak enak seperti “Cieee sang pangeran berusaha  merebut kembali putri yang dirampas”, atau apalah ya, kan gosip di kampus itu beredarnya cepat, dan aneh-aneh.

“Kejar tuh”, goda salah seorang temanku yang lagi makan.

“Siapa?”, jawabku pura-pura tidak tahu.

“Cewekmu tuh nangis-nangis”, balasnya.

“Mantan!”, jawabku sambil merapatkan gigi.

Suara tawa dari teman-teman lainnya pun terdengar sangat keras, bahkan abang kelas yang tak lain adalah pacar mantanku pun melihat ke arah kami. Tapi kami tidak menggubris dan lanjut makan siang sambil tertawa.

Setelah makan siang, saya pun pulang ke kosan karena memang saat itu tidak ada masuk kuliah lagi. Tapi beberapa teman masih ada jadwal kuliah. Jadi saya pulang sendirian.

Dalam perjalanan pulang, tanpa sengaja saya berpapasan dengan mantan pacar saya di jalan. Seperti kebiasaan yang sudah tertanam di kampus, apabila senior dan junior berpapasan di jalan, maka junior harus menyapa seniornya. Dan itu sudah ditanamkan kepada setiap mahasiswa di fakultas saya sejak masa orientasi (Ospek).

“Siang bang”, dia menyapa dengan senyum sedih sambil berlalu.

“Siang”, balasku sambil meneruskan perjalan pulang.

Tapi dari raut wajahnya yang saya lihat, sepertinya dia sedang sedih dan ada masalah. Saya bisa tahu karena kami memang pernah dekat, kalau bahasa sekarang, pernah sehati deh ya. Namun, saya rasa tidak ada alasan bagi saya untuk menanyakan masalahnya, apalagi masalah pribadi. Apalagi, dia mungkin sudah tahu kalau saya juga sudah dekat dengan cewek dari jurusan sebelah. Andai, ini andai ya… Andai saat itu saya mengajaknya balikan lagi, pasti dia gak akan mau, karena sudah tahu hubungan saya dengan cewek jurusan sebelah. Walaupun cewek jurusan sebelah sudah tidak tahu dimana rimbanya. Saya pun melanjutkan perjalanan pulang ke kos.

Ternyata, sebenci apapun kita kepada mantan pacar saat kita putus, tetap saja ada rasa yang tersisa di hati kita. Itu tidak bisa saya pungkiri, saya langsung merasakannya saat berpapasan dengannya di jalan, apalagi saat itu wajahnya yang sedih membuat saya serasa ingin melindungi dan menenangkannya, namun apalah daya, status kami saat itu hanya sekedar ‘Mantan Kekasih‘.

Ali Bin Abi Tholib pernah berpesan : ”Cintailah orang yang engkau cintai itu sekedarnya saja, sebab barangkali suatu hari dia akan menjadi orang yang engkau benci, dan bencilah orang yang tidak engkau sukai itu sekedarnya saja sebab barangkali suatu hari dia akan menjadi orang yang kamu cintai”.

Bersambung…

***Untuk mendapatkan update terbaru via Facebook anda silahkan klik disini!

Cerita ini berdasarkan kisah nyata, penulis saat ini sudah menikah dengan wanita yang dikenalinya melalui Internet, dan cerita ini akan terus berlanjut sampai ke pernikahan si penulis dengan istrinya sekarang, jadi tungguin terus kelanjutan ceritanya ya, karena banyak pesan moral dan pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah ini. Silahkan Sebarkan ke semua temanmu jika kamu suka cerita ini….

 

*Penulis: Harmein Pane
Penulis merupakan pengelola website Komik Online terjemahan bahasa Indonesia, www.pecintakomik.com
E-mail: mangabaru@gmail.com
Facebook: Harmein Pane

Website: www.harme.in
Twitter: @HarmeinPane