Istriku dari Dunia Maya (6)

Cinta-Dunia-Maya

“Filmnya bagus ya bang”, ucapnya sambil menatap saya dengan senyum manisnya setelah kami selesai menonton bioskop.

Sudah ketiga kali ini kami nonton bioskop, hubungan kami sudah semakin dekat, tapi belum ada status pacaran. Di Laboratorium juga dia bersikap biasa seperti praktikan lainnya, karena memang saya suruh supaya dia tidak terlalu menonjolkan bahwa di luar kampus hubungan kami dekat, walaupun sebagian temannya bahkan teman saya sudah ada yang tahu kalau kami sering keluar bersama di luar kampus.

“Iya”, jawabku singkat sambil membalas SMS teman kos yang sepeda motornya saya pinjam.

Saya meminjam sepeda motor teman kosan untuk pergi nonton, dan janji akan saya kembalikan sebelum Magrib. Wajar saja kalau teman pemilik sepeda motor ini bolak-balik SMS saya menanyai saya ada dimana, karena saat itu jam sudah menunjukkan pukul 20.15 WIB, mungkin dia mau memakai sepeda motornya atau bahkan ingin kencan dengan pacarnya.

Setelah selesai nonton, saya mengajak dia mampir di tempat nongkrong di Mall tempat kami nonton. Disitulah saya tahu bahwa si cewek ini banyak masalah, baik itu masalah keluarga, keuangan, dan masalah pribadi lainnya sehingga di kampus juga dia sering tidak masuk. Dan mungkin saja inilah salah satu penyebab laporannya sampai bermasalah ‘separah’ itu, yang akhirnya membuat kami jadi dekat.

Saat itu rasa bersalahpun muncul dalam diri saya setelah mendengar penjelasannya yang cukup panjang. “Ternyata kita tidak boleh berprasangka buruk pada orang lain sebelum tahu apa penyebab seseorang itu berbuat demikian”, itulah kalimat yang terbersit dalam diri saya, karena saya terlalu mudah menjudge, menilai seseorang tanpa mengetahui apa penyebab seseorang berbuat seperti itu.

Selain nonton bioskop, saya juga sudah semakin sering mampir dikosannya setelah pulang kuliah ataupun selesai mengajar Private Les. Berbagi cerita, baik itu masalah keluarga, masalah cinta, masalah kampus, masalah keuangan, dan lain sebagainya. Saya pun tahu kalau dia memang sedang tidak ada pacar, benar atau tidaknya saya kurang tahu, karena saya tidak mau menjudge seseorang begitu saja (lagi).

Dengan penuh harapan, sayapun semakin semangat untuk mendekati sekaligus menjadikannya pacar. Karena pacar (dunia maya) saya juga sudah mulai tidak jelas, dan belakangan saya juga sudah jarang online, menurut saya online itu hanya buang-buang waktu saja, buang-buang uang saja, tanpa ada kejelasan, hanya sebatas chatting dan tertawa sesaat saja.

Anggapan seperti itu mulai tumbuh dalam diri saya tentang dunia maya, pacaran di dunia maya itu ya seperti namanya, maya, semu, tidak jelas, tidak nyata. Apakah ini anggapan yang mendadak muncul setelah saya terlepas dari pacar (mantan) saya dan menemukan penggantinya di dunia nyata, sehingga pacar (dunia maya) saya tinggalkan karena saya anggap semu, saya juga tidak tahu. Yang jelas, saat itu anggapan yang ada bahwa dunia maya itu memang semu. Titik.

Seberapa banyak ilmupun di dunia maya itu yang diajarkan teman-teman, tetap saja anggapan yang muncul itu hanya daya tarik semata supaya saya lebih sering online dan bisa menemani mereka yang saya anggap saat itu tidak ada masa depan, hanya melakukan hal yang sia-sia. Padahal, di mIRC saya sudah mulai mempelajari cara membuat game seperti game yang biasa saya mainkan, dan sudah ada teman di Jakarta dan Batam yang setiap malam kami rutin online saling sharing tentang cara membuatnya, kebetulan yang Jakarta tahu sistemnya tapi belum pernah mencoba, karena membutuhkan server untuk bisa meng-online-kan gamenya, dan yang di Batam sepertinya sangat berhasrat ingin memiliki channel di mIRC yang menyediakan game dan kelihatannya dia orang yang berduit, dan mau membeli server asalkan yang di Jakarta mau mengusahakan game itu di channelnya, sementara saya hanya pemerhati yang tidak tahu cara membuat game nya dan tidak punya uang untuk membeli servernya. Kasihan. Yang jelas kami bertiga hampir setiap malam saling tukar pikiran demi mewujudkan game ini.

***

Tiga bulan berlalu, masa jabatan sebagai asisten di Laboratorium pun berakhir, yang artinya saya tidak akan bertemu sebagai asisten-praktikan lagi dengan cewek itu di Laboratorium, saya pun terbebas dari gosip yang belakangan sudah heboh di kampus bahwa saya pilih kasih pada praktikan. Banyak yang mengatakan saya tidak adil, memperlakukan cewek itu berbeda dengan praktikan lain. Bahkan ada yang saya dengar “Mentang-mentang pacar asisten, seenaknya saja di Lab ini”.

Padahal menurut saya semuanya saya perlakukan biasa saja, tapi itulah kenyataan hidup, misalkan saja menurut kita ‘A besar’, belum tentu menurut oranglain ‘A besar’, bisa saja menurut orang lain ‘a kecil’ atau bahkan ‘AA Double A Besar’, karena memang cara berpikir dan menyimpulkan sesuatu berbeda pada setiap orang.

“Kapan lu online lagi? Game sudah jadi nih, channel mulai rame”, isi SMS yang baru masuk ke Handphone saya, dari teman mIRC di Jakarta.

“Wew, nanti deh aku online, banyak tugas kuliah nih”, balasku memberikan harapan palsu pada mereka, karena saat itu ketertarikan saya dengan dunia maya sudah mulai berkurang karena saya rasa tidak ada gunanya, hanya buang-buang uang dan waktu.

Muncul dalam pikiranku, kenapa sih mereka ngotot sampai nge-SMS agar saya online? Kan sudah jelas saya tidak bisa membuat gamenya, tidak punya uang untuk membeli servernya? Apakah mereka hanya memanfaatkan saya untuk meramaikan channel mereka supaya banyak yang tertaik main game? Apakah mereka menjadikan saya tumbal untuk meramaikan channel mereka?

Sambil berjalan perlahan menuju rumah murid Private Les, saya pun merenungkan isi SMS teman mIRC dari Jakarta ini. Galau, antara penasaran dan curiga. Penasaran seramai apa sih channel mereka? Curiga apakah mereka sengaja menjebak saya? Saya tidak kenal mereka dan mereka tidak kenal saya, tidak mungkin mereka mau mengajari saya, memberikan kontrol penuh channel kepada saya. Pikiran saya penuh dengan kedua hal ini sampai akhirnya saya pun sampai di rumah murid Les saya.

Sepulang mengajar Les, sayapun menuju kosan cewek yang setelah praktikum selesai, kami jarang jumpa di kampus, dia sudah jarang ngirim SMS dan saya pun jarang berkunjung ke kosannya karena jadwal Private Les yang padat ditambah lagi dengan tugas kuliah yang menumpuk.

Terkejut setengah mati, setelah saya sampai di kosnya, salah seorang teman kosnya yang juga sudah mulai akrab dengan saya datang menghampiri saya dan berkata “Bang, dia sudah pulang kampung tiga hari lalu, aku gak tahu kenapa, tapi ke kampus juga dia sudah jarang masuk, teman-temannya juga pernah datang nanyain dia kenapa gak masuk”. Dan masih panjang penjelasan yang diberikan teman kosnya, yang intinya si cewek ini tidak ada di Medan lagi, tidak masuk kuliah lagi, dan dia sendiri tidak tahu si cewek ini pulang ke kampungnya atau kemana.

Tanpa pikir panjang, saya pun mencoba menelponnya, dan ternyata Handphone nya juga tidak aktif lagi. Mungkinkah dia ada masalah lagi? Mungkinkah dia tidak tahan gosip di kampus? Mungkinkah di Jurusannya dia di-bully teman-temannya? Mungkinkah orangtuanya sakit? Mungkinkah dia akan dinikahkan? Mungkinkah saya yang menjadi penyebab semua ini?

Sekali lagi, rasa bimbang dalam diri saya. Sesulit inikah hidup ini? Untuk kedua kalinya saya dikecewakan cewek di dunia nyata, di saat saya sedang nyaman dengan mereka, justru mereka mengkhianati dan membohongi saya, justru mereka menghilang entah kemana.

Sebuah pertanyaan pun muncul, apakah dunia nyata itu juga tidak jelas, seperti tidak jelasnya dunia maya?

Bersambung…

***Untuk mendapatkan update terbaru via Facebook anda silahkan klik disini!

Cerita ini berdasarkan kisah nyata, penulis saat ini sudah menikah dengan wanita yang dikenalinya melalui Internet, dan cerita ini akan terus berlanjut sampai ke pernikahan si penulis dengan istrinya sekarang, jadi tungguin terus kelanjutan ceritanya ya, karena banyak pesan moral dan pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah ini. Silahkan Sebarkan ke semua temanmu jika kamu suka cerita iniā€¦.

 

*Penulis: Harmein Pane
Penulis merupakan pengelola website Komik Online terjemahan bahasa Indonesia, www.pecintakomik.com
E-mail: mangabaru@gmail.com
Facebook: Harmein Pane

Website: www.harme.in
Twitter: @HarmeinPane