Akhirnya ‘Sambal Tuktuk’ Khas Sipirok Saya Dapatkan di Sipirock Coffee

Sipirock CoffeeSore tadi (Sabtu, 03 Januari 2015) hari ketiga di Tahun Baru 2015, bersama istri, saya jalan-jalan menulusi sambil mengenal daerah yang ada di Jakarta dan sekitarnya. Maklum, baru tinggal beberapa bulan di Depok setelah menikah November lalu, dan baru tahu beberapa daerah dan jalan saja di pulau Jawa ini.

Kebetulan Allah mempertemukan saya dengan jodoh di pulau Jawa ini, tepatnya di Banten. Karena saya ‘bekerja’ bisa dimana saja dan darimana saja selagi ada koneksi Internet, akhirnya kamipun memutuskan untuk tinggal di Depok.

Entah kenapa, mendadak istri saya kangen masakan khas Sipirok yang pernah dimasak bou-nya (ibu saya), karena dua kali ke Sipirok katanya masakan di Sipirok itu natural dan enak, sampai-sampai kalau sedang pulang ke Sipirok, istri saya makannya gak ketulungan sampai gak sadar kalau dia sudah tambah beberapa kali (hahahaha).

Sayapun teringat sebuah tempat, yang saya dapatkan dari teman-teman di Internet, yang katanya ada sebuah Cafe yang menyajikan santapan khas Sipirok, namanya Sipirock Coffee. Tanpa pikir panjang, saya pun mengusulkan untuk kesana, walaupun saya tidak tahu letak Sipirock Coffee itu dimana, begitu juga dengan istri saya.

Bermodalkan GPS dan keberanian, kamipun berangkat menuju tempat yang entah dimana ini. Petunjuk hanya satu, saat kami lihat di Internet Sipirock Coffee ini beralamat di Jl. TB. Simatupang No.81, Tanjung Barat, Jakarta Selatan. Apalagi saat itu hujan turun deras, sehingga kami berhenti sejenak dan bertanya pada orang yang juga sedang berteduh menunggu hujan reda.

Setelah mendapatkan clue bahwa TB Simatupang itu arahnya kesana, kamipun melanjutkan perjalanan setelah hujan sedikit reda. Entah kenapa, feeling sayapun muncul untuk bertanya kepada orang yang sedang duduk-duduk, sepertinya itu pangkalan ojek. Sayapun menghentikan sepeda motor dan bertanya.

WOW! Ternyata orang yang saya tanyai juga berasal dari Sipirok dan bermarga Siregar. Hawa Sipirok pun saya rasakan semakin dekat. Apalagi orang Sipirok tempat saya bertanya ini menjelaskan dengan detail, bahwa Sipirock Coffee sudah sangat dekat. Dan ternyataaaaaaa…. Tempatnya cukup dekat dari tempat tinggal saya di Tanah Baru, Beji, Depok.

Setelah sekian lama, akhirnya keinginan untuk nongkrong dan menikmati santapan khas Sipirok di Sipirock Coffee pun kesampaian. Begitu masuk, saya dan istri memesan tempat untuk smoking area. Salah satu waiter pun mengantarkan kami ke lantai dua.

Suasana ruangan yang khas dengan ornamen Batak pun mulai terlihat.

Sipirock-Coffee---05

Ruangan ini Non Smoking Area

 

Sipirock-Coffee---06

Ruangan ini Non Smoking Area

 

Waiter pun memberikan menu yang disajikan di Sipirok Coffee.

Ada Itak Poul-poul

Ada Itak Pohul-pohul

Ketika melihat Itak Pohul, saya pun menjelaskan kepada istri saya, bahwa kemarin kami pernah membuatnya di Sipirok, istri saya pun ingat dan ingin memakannya. Tapi, mungkin belum rezeky, Itak Pohul nya tidak ada, mungkin sudah habis ya. Atau mungkin menyuruh kami mampir kesini lagi di lain waktu (semoga sudah ada ya).

Sipirock-Coffee---01

Setelah melihat menu makanan, mata saya langsung tertuju ke Paket Sibual-buali dan dengan nada riang gembira (begitulah kira-kira ya) saya pun menunjukkannya kepada istri saya. Dannnnn…… Hasrat untuk makan Sambal Tuktuk pun kesampaian, rasa kangen istri saya pun untuk menyantap masakan bou-nya (ibu saya) kesampaian juga.

Tidak berapa lama, pesanan kami pun datang. Eng ing eng….

Sipirock-Coffee---07

Sambal Tuktuk dan Silalat

Sambal Tuktuk dan Silalat

Salah satu minuman khas di Sipirock Coffee adalah Kopi Luwak yang berasal dari kotoran luwak liar yang asli dari Kota Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, yang sudah diproses dengan modern, sehingga menghadirkan cita rasa yang khas untuk penikmat kopi.

Kebetulan, saya juga sambil berkebun kopi di Sipirok, walaupun bukan saya langsung yang mengerjakannya, tapi saya tahu walaupun hanya sedikit tentang kopi. Saat ini, kira-kira 2700 batang kopi telah tertanam di kebun saya, dan sedang dalam perkembangan, direncanakan masih akan terus bertambah. Abang saya kira-kira 2500 batang kopi yang sudah panen, kakak saya sekitar 2000 batang kopi dan baru mulai mau panen, yang semuanya terlatak di area yang sama di Desa Huraba, Sipirok. (Bisa baca di: Berkebun Kopi Ateng di Desa Huraba Sipirok)

Nyam… Nyam… Nyam…. Slurrppp… Slurrrrppp… Saya dan istripun dengan lahapnya menyantap sajian yang sudah terhidang.

Istri Saya

Istri Saya

Saya sampai tidak sadar kalau piringnya sudah kosong >.<

Saya sampai tidak sadar kalau piringnya sudah kosong >.<

Dan ternyata, parbasuan (wastafel) nya pun mengingatkan saya pada kampung halaman.

Sipirock-Coffee---04

Benar-benar design yang sempurna, tidak sia-sia perjalanan menempuh hujan badai (lebay) ke Sipirock Coffee, karena yang kita inginkan benar-benar ada disana.

Tidak berapa lama, setelah kami selesai menyantap sajian yang ada, adzan Magrib pun terdengar, menandakan waktu Sholat Magrib pun tiba. Awalnya, saya bersama istri ingin sholat ke rumah, tapi karena takut macet dan waktu Magrib keburu habis, saya menanyakan kepada seorang waiter apakah tersedia tempat sholat. Dan ternyata, sekali lagi, Sipirock Coffee membuktikan, bahwa orang Sipirok itu bukan hanya beradat, tapi juga religius, terbukti dengan adanya tempat sholat, walaupun tidak begitu luas, di lantai 3.

Setelah rasa kangen akan Sipirok sedikit terobati, kamipun sepakat untuk pulang karena takut kemalaman dan hujan semakin lebat.

Semoga Sipirock Coffee terus maju, dan menjadi salah satu tongkrongan favourite di kota Jakarta. Amin.

Ini ceritaku, apa ceritamu?

 

Tanah Baru,
03 Januari 2015
Harmein Pane